SYAMSUL HUDA

THIS WEB IS JUST FOR FUN, NOT FOR REFERENCE

bacaan ghoroib dalam al-qur'an

diposting oleh syamsulhuda-fst09 pada 03 December 2011
di moslem - 6 komentar

Berbicara tentang al-Qur’an memang bagaikan mengarungi samudera yang tak bertepi, semakin jauh ia diarungi semakin luas pula jangkauannya. Dariaspek manapun al-Qur’an dikaji dan diteliti, ia tidak akan pernah habis, bahkan semakin kaya dan selalu aktual. Ia bagaikan intan yang memiliki berbagai sudut, dan setiap sudut selalu memancarkan cahayanya yang terang.Bacaan Al-Quran itu wajib dibaca perlu benar sesuai dengan ketika diturunkan.
dalam QS. Al Isra' : 105 Allah berfirman "Wa bil haqq anzalnaahu wa bil haqq
nazala".
QS. Al Qiyamah : 18 "Fa idzaa qoro'naahu wattabi' qur-aanah."
Maka kita dituntut untuk mengikuti bacaan Qur'an sebagaimana Allah melalui
malaikat Jibril membacakannya.
didalam al-qur'an terdapat bebrapa bacaan-bacan yang nyleneh, nyleneh dalam arti adalah karena bacaan gharib yang terdapat di dalam Al-Quran cara membacanyanya berbeda dengan tulisan yang ada. bacaan-bacaan itulah yang dinamakan ghorib/ghoroib.
bacaan ghorib terbagi menjadi:
1.      Saktah,
Saktah Secara bahasa saktah berasal dari kata سكت – يسكت – سكوتا yang berarti diam; tidak bergerak, atau bisa juga bermakna المنع (mencegah). Sedangkan menurut istilah; قطع الكلمة من غير تنفس بنيةالقراءة (memutus kata sambil menahan nafas dengan niat meneruskan bacaan).. Dengan kata lain, berhenti sejenak sekedar satu alif tanpa bernafas dengan niat meneruskan bacaan.
a.       Pada alif gantian dari tanwin yang terdapat pada lafazh عوجا dalam surat al Kahfi ayat 1-2,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2).

” Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,”.
Adapun alasan diterapkan bacaan saktah disini ialah agar tidak terjadi kesalahan makna ayat, artinya hal ini agar tidak mengesankan bahwa lafazh قَيِّمًا adalah sifat/na’at bagi lafazhعوجا , sebab al ‘Iwaj (kebengkokan) itu bukanlah Qoyyiman (lurus).

b.      Pada alif yang terdapat pada kalimah مَرْقَدِنَا dalam surat Yasin ayat 52,
قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (٥٢)

” Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat-tidur Kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).”
Apabila washol, berhenti sejenak pada lafazh مَرْقَدِنَا (marqodina) kira-kira satu alif tanpa bernafas, kemudian melanjutkan…. هَذَا. Alasan bacaan saktah pada ayat ini ialah menjelaskan bahwa kata هذا bukan sifat dari مرقد , melainkan ia menjadi mubtada’ dan agar tidak terjadi kesalahan pemahaman pada makna dari ayat diatas.
Pada ayat ini perkataan orang kafir selesai pada lafazh مَرْقَدِنَا, dan lafazh…. هَذَا adalah perkataan malaikat. Pada dua tempat ini seorang Qori’ diperbolehkan memilih, waqof pada kalimah yang pertama, maka tidak ada hukum saktah dan Ibtida’ dengan kalimah setelahnya atau membaca washol kalimah yang pertama dengan kalimah berikutnya, tidak waqof, maka diharuskan menerapkan bacaan saktah.

c.       Pada Nun-nya lafazh مَنْ dalam surat al Qiyamah ayat 27 “  وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ “.
d.      Pada Lam-nya lafazh بَلْ dalam surat al Muthoffifin ayat 14 ;
كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٤)

Pada dua tempat ini harus diterapkan bacaan saktah, karena tidak diperbolehkan waqof pada dua tempat tersebut, artinya tidak boleh waqof pada lafazh مَنْ dan lafazh بَلْ kemudian Ibtida’ pada lafazh رَاقٍ dan lafazh  رَانَ, jadi harus dibaca washol مَنْ رَاقٍ dan بَلْ رَانَ dengan menerapkan hukum saktah.
Sedangkan alasan bacaan saktah pada dua ayat ini ialah, untuk menekankan fungsi من sebagai kata tanya dan fungsi بل sebagai kata penegas, selain itu juga untuk memperjelas izhhar-nya lam dan nun karena biasanya dua huruf tersebut bila bertemu ra’ di-idgham-kan sehingga bunyi keduanya hilang dan nantinya menjadi serupa dengan bentuk Mudho’af (مضاعف).
Selain empat tempat di atas, sebetulnya ada dua lagi saktah umum yang diikuti oleh Imam Ashim, yaitu pertemuan antara surat Antara surat al Anfal dan surat at Tawbah pada Mim-nya lafazh عَلِيمٌ, pertemuan dua ha’ pada kalimat (dalam surat al-Haqqah, 28-29): مَآ أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَّلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ . Hanya saja, saktah pada Mim-nya lafazh عَلِيمٌ ini sebenarnya satu diantara tiga alternatif bacaan yang disepakati oleh semua imam qiraat, yaitu washal, saktah dan waqaf dan pada surat al-Haqqah sebenarnya satu diantara dua alternatif bacaan, yaitu Idghom dan saktah

Ringkasnya yaitu :
• Surat al Kahfi ayat 1: ولم يجعل له عوج-قيما 
• Surat Yasin ayat 52 : من مرقدنا - هذا ما وعدنا الرحمن
• Surat al Qiyamah ayat 27 : وقيل من - راق
• Surat al Muthaffifiin ayat 14 : كلا بل – ران

2.       Imalah,
Imalah Secara bahasa berasal dari kata أمال – يميل – إمالة الرمح yang berarti memiringkan atau membengkokkan (tombak), sedangkan secara istilah imalah berarti memiringkan fathah ke arah kasrah atau memiringkan alif ke arah ya’. Bacaan imalah ini bermanfaat untuk memudahkan pengucapan huruf, karena lidah itu akan terangkat bila membaca fathah dan turun bila membaca imalah dan tentunya turunnya lidah itu lebih ringan dari terangkatnya lidah. Juga dengan bacaan imalah huruf ya’ yang merupakan asal dari alif layyinah tersebut akan tetap tampak ketika dibaca. Untuk imam Hafs, bacaan imalah dalam al Qur’an Cuma ada di surat Hud ayat 41.
مجراها yang seharusnya dibaca majraaha, menjadi majreeha. 

3.       Naql,
Naql (Memindah/menggeser harakat) Secara bahasa naql berasal dari kata نقل – ينقل – نقلا berarti memindah; memindah/menggeser. Adapun secara istilah naql berarti memindahkan harakat hamzah ke huruf mati sebelumnya, dan setelah itu hamzahnya dibuang. Menurut imam Hafs, bacaan ini juga hanya ada dalam surat al Hujurat ayat 11 بئس الاسم. Alasan bacaan naql pada kata الاسم yaitu terdapatnya dua hamzah washal (hamzah yang tidak terbaca di tengah kalimat), yakni hamzah pada al ta’rif dan ismu (salah satu dari sepuluh kata benda yang berhamzah washal), yang mengapit lam sehingga menjadi tidak terbaca di kala sambung dengan kata sebelumnya. Di antara manfaat bacaan naql ini adalah untuk memudahkan umat Islam membacanya. Bingung yah? Gak apa-apa ya. Namanya juga nuntut ilmu. Pelan-pelan aja.

4.       Isymam,

Yaitu membaca harakat kata yang diwaqaf tanpa ada suara dengan mengangkat dua bibir setelah mensukunkan huruf yang dirafa’, seperti نستعينُ . dalam bacaan Hafsh, isymam hanya ada kata لا تأمنا (QS. Yusuf:11), yakni lidah melafazhkan لا تأمنُنَا tanpa ada perubahan suara alias tetap sama dengan tulisannya. Kalau diamati, ternyata rasm al-Qur’an hanya menulis satu nun yang ditasydid. Pertanyaan yang muncul, mana dlammahnya? sehingga untuk mempertemukan keduanya dipilih jalan tengah yaitu bunyi bacaan mengikuti rasm, sedang gerakan bibir mengikuti kata asal. Secara bahasa, hal itu bisa difahami bahwa memang asal dari kata itu terdapat dua nun yang diizhharkan, nun pertama dirafa’kan dan kedua dinashabkan. Nun pertama dirafa’kan (didlammahkan) karena ia termasuk fi’il mudhari yang tidak kemasukan ‘amil nawashib maupun jawazim. Kata “la” yang masuk pada kata “ta’manu” adalah nafy (yang berarti “tidak”) bukan nahy (yang berarti “jangan”). Hal itu diambil dari pemahaman konteks ayat:

قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ (١١)

“ Mereka berkata: “Wahai ayah Kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai Kami terhadap Yusuf, Padahal Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.

5.       Tashil,
yaitu meringankan hamzah kedua (dari dua hamzah yang beriringan) dengan bunyi leburan hamzah dengan alif. Terdapat dalam surat Fushilat 44 أأعجمي وعربي. Kalo diliat dari tulisannya, bacaannya kan seharusnya a a’jamiyyu wa ‘arabiyy. Tapi untuk bacaan ini, hamzah pertama dan kedua cara bacanya agak diringankan. Ketika bertemu dua hamzah qatha’ yang berurutan pada satu kata maka melafadzkan kata semacam ini bagi orang Arab terasa berat, sehingga bacaan seperti ini bisa meringankan.

Arti tashil secara bahasa memberi kemudahan atau keringanan, sedangkan dalam istilah qiraat, tashil diartikan pengucapan hamzah , dengan bunyi antara hamzah dan huruf yang sejenis dengan harakat hamzah, seperti أأنذرتهم، أأنتم dan lain-lain. Hanya saja dalam riwayat Hafsh bacaan tashil hanya satu yaitu أأعجمي وعربي (QS. al-Fusshilat:44). Ketika bertemu dua hamzah qatha’ yang berurutan pada satu kata maka melafazhkan kata semacam ini bagi orang Arab terasa berat, sehingga bacaan seperti ini bisa meringankan. Juga ada bacaan tashil lagi, sebagaimana yang dikemukakan Imam Nasr Makky ada enam tempat, yaitu
1. Surat al-An’am ayat 143 : آالذكرين.
2. Surat al-An’am ayat 144 : آالذكرين .
3. Surat Yunus 51 : آلآن .
4. Surat Yunus 91 : آلآن.
5. Surat Yunus 59 : آلله.
6. Surat al-Naml 59 :آلله

6 Komentar

1. fNSPRhGclEXCjQjM

pada : 12 March 2012

"Beasiswa Sosial Ekonomi bisa memberi enginrakan hingga 50%, tergantung dari hasil survey dan interview tim beasiswa pada keluarga mahasiswa ybs.Program Information Multimedia Technology sedang mengadakan beasiswa prestasi akademik. Informasi dapat dibaca di"


2. muhammad R

pada : 13 July 2012

"insyallah, bermanfaat."


3. sufyan atsauri

pada : 18 September 2012

"sykron jazil atas keterangn ghoribnya semoga menjadi amal jariyah kelak"


4. bilqis zakiyah

pada : 07 October 2012

"syukron katsiron . . . .
adanya gharib ini saya bisa tahu tentang bacaan al-qur'an yang benar"


5. Mirda doang

pada : 02 January 2013

"Trmksh artklnya!"


6. Irs bestari

pada : 04 April 2013

"Subhanalloh.syukron ilmunya smoga menambh amal jariyah dan keberkahan di dunia dan akhirat"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :