SYAMSUL HUDA

THIS WEB IS JUST FOR FUN, NOT FOR REFERENCE

sistem ekskresi manusia

diposting oleh syamsulhuda-fst09 pada 03 December 2011
di kuliah - 0 komentar

SISTEM EKSKRESI KULIT PADA MANUSIA
Pengantar
Setiap hari tubuh kita menghasilkan kotoran dan zat-zat sisa dariberbagai proses tubuh. Agar tubuh kita tetap sehat dan terbebas dari penyakit, maka kotoran dan zatzat sisa dalam tubuh kita harus dibuang melalui alat-alat ekskresi. Zat sisa hasil metabolisme merupakan sisa pembongkaran zat makanan, misalnya: karbondioksida (CO2), air (H20), amonia (NH3), urea dan zat warna empedu. Zat sisa metabolisme tersebut sudah tidak berguna lagi bagi tubuh dan harus dikeluarkan karena bersifat racun dan dapat menimbulkan penyakit. Alat-alat ekskresi manusia berupa ginjal, kulit, hati, dan paru-paru. Namun yang akan dibahas pada tulisan ini adalah tentang kulit.
Seluruh permukaan tubuh kita terbungkus oleh lapisan tipis yang sering kita sebut kulit. Kulit merupakan benteng pertahanan tubuh kita yang utama karena berada di lapisan anggota tubuh yang paling luar dan berhubungan langsung dengan lingkungan sekitar.
Dilihat dari strukturnya, kulit terdiri dari dua lapis, lapisan yang paling luar disebut epidermis tersusun dari sel epitel pipih berlapis (skuamus kompleks), dan lapisan di bawahnya disebut dermis tersusun  dari jaringan ikat tidak beraturan. Epidermis dan dermis dapat terikat satu sama lain akibat adanya papilare dermis dan rabung epidermis. Tepat di bawah dermis terdapat lapisan hipodermis atau fasia superfisial yang terutama  tersusun dari jaringan adiposa yang bukan bagian dari kulit. Pada kulit dapat ditemukan adanya Melanosit, yaitu sel yang menghasilkan melanin melalui proses melanogenesis. Sel Langerhans, yaitu sel yang merupakan makrofag turunan sumsum tulang, yang merangsang sel Limfosit T, mengikat, mengolah, dan merepresentasikan antigen kepada sel Limfosit T. Dengan demikian, sel Langerhans berperan penting dalam imunologi kulit. Serta Sel Merkel, yaitu sel yang berfungsi sebagai mekanoreseptor sensoris dan berhubungan fungsi dengan sistem neuroendokrin difus.


Lapisan Epidermis Kulit Manusia
Epidermis tersusun dari sel epitel pipih berlapis (skuamus kompleks), mengandung sel-sel pigmen yang memberi warna pada kulit dan berfungsi melindungi kulit dari kerusakan oleh sinar matahari. Epidermis terdiri dari beberapa lapis sel. Sel-sel tipis, datar, seperti sisik dan terus menerus mengelupas, dan diganti oleh sel-sel di bawahnya. 
Proses ini berjalan terus menerus selama kita hidup. Protoplasma selnya berubah menjadi sejenis protein yang disebut keratin. Keratin adalah suatu protein yang bersifat tahan air, jadi lapisan ini merupakan “ mantel “ tubuh alami yang melindungi jaringan-jaringan yang lebih dalam dari kehilangan air. Lapisan epidermis terdiri atas ( dari luar ke dalam ) adalah:
1). Stratum corneum (lapisan tanduk/ kuli ari).
Lapis paling luar disebut stratum korneum, yang disebut juga sebagai lapisan bertanduk atau juga disebut kulit ari, karena lapisan ini tersusun dari sel- sel pipih berkeratin yang merupakan sel-sel mati.  Kulit ari tersusun dari dua lapisan yaitu lapisan tanduk dan lapisan malpighi.  Lapisan tandukadalah bagian kulit yang paling luar terdiri atas sel-sel mati dan dapat mengelupas secara terus-menerus, namun secara terus menerus pula selalu diganti oleh sel-sel yang lebih dalam. Lapisan Malpighi terletak di bawah lapisan tanduk dan terdiri atas sel-sel hidup. Pada lapisan Malpighi terdapat pigmen yang memberi warna pada kulit dan melindungi kulit dari sinar matahari. Bila lapisan Malpighi tidak mengandung pigmen, orang tersebut dinamakan albino. 
2). Stratum lucidum.
Stratum lucidum terdiri atas lapisan tipis sel epidermis eosinofilik yang sangat gepeng, dan sitoplasma terdri atas keratin padat. Antar sel terdapat desmosom. sel-selnya jernih dan terdiri atas beberapa lapis, stratum lucidum ini tampak lebih terang disebabkan akumulasi dari molekul keratin.
3). Stratum gronulosum
Terletak di bawah stratum lucidum , merupakan daerah dimana sel-sel mulai mati karena terakumulasinya molekul bakal keratin yang memisahkan sel-sel ini dari daerah dermal. Stranum gronulosum terdiri atas 2-3 lapis sel yang bentuknya pipih yang diduga merupakan peralihan antara stratum germinativum dan sel-sel stratum corneum pada permukaan kulit.Sitoplasmanya berisikan granul keratohialin. Pada membran sel terdapat granula lamela yang mengeluarkan materi perekat antar sel, yang bekerja sebagai penyaring selektif terhadap masuknya materi asing, serta menyediakan efek pelindung pada kulit.
4). Stratum germinativum.
stratum germinativum ini tersusun dari sel-sel epidermal yang menerima nutrisi cukup dari dermis. Sel-sel tersebut secara konstan mengalami pembelahan dan menghasilkan berjuta-juta sel baru setiap hari. Sel-sel yang lebih tua akan terdesak ke luar menjauhi sumber nutrisi, sehingga sel-sel tersebut lambat laun akan mati dan mengalami keratinisasi.Stratum germinativum terdiri atas dua lapisan, yaitu :
a). Stratum spinosum,
Terdiri atas sel-sel kuboid. Sel-sel spinosum saling terikat dengan filament, filamen ini memiliki fungsi untuk mempertahankan kohesivitas (kerekatan) antar sel dan melawan efek abrasi. Dengan demikian, sel-sel spinosum ini banyak terdapat di daerah yang berpotensi mengalami gesekan seperti telapak kaki. sel-selnya nampak berduri, karena adanya fibril-fibril halus yang menyambung satu dengan yang lainnya.
b). Stratum basalis,
Merupakan lapisan paling bawah pada epidermis, terdiri atas selapis sel kuboid. Pada stratum basal terjadi aktivitas mitosis, sehingga stratum ini bertanggung jawab dalam proses pembaharuan sel-sel epidermis secara berkesinambungan. Sel-selnya terus menerus membelah membuat sel-sel baru.
Lapisan dermis kulit
Lapisan dermis merupakan bagian tersbesar dari komposisi kulit, merupakan lapisan yang kuat dan memiliki jaringan ikat yang fleksibel yang mengandung serabut kolagen. Retikular dan serabut-serabut elastis. Serabut kolagen dibentuk dari protein kolagen yang sangat tipis. Serabut retikular, merupakan serabut paling tipis sebagai jaringan penyokong. Serabut elastis menjadikan kulit lebih fleksibel. Kebanyakan sel pada dermis adalah fibroblast, sel lemak dan makrofag Pada lapisan ini terdapat pembuluh darah, pembuluh limfe, ujung syaraf, folikel rambut dan kelenjar-kelenjar. Lapisan dermis terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan papila dan lapisan retikular.
1) Lapisan Papila 
Lapisan papila hampir tidak mengandung jaringan ikat, memiliki serabut kolagen yang tipis. Lapisan ini dikenal dengan lapisan subepitel karena dibawah lapisan epitel epidermis. Lapisan ini disebut juga lapisan papila karena terdapat papila (kecil, seperti jari-jari) yang berikatan dengan epidermis. Kebanyakan papila mengandung kapiler untuk memberi nutrisi pada epidermis. Pada lapisan ini pula terdapat ujung-ujung syaraf husus (meissner untuk sentuhan). Papila dengan serabut dobel ditelapak tangan dan kaki membentuk sidik jari.
2) Lapisan reticular 
Lapisan retikuler terdiri dari jaringan ikat, memiliki serabut kolagen yang kasar dan berkas serabut yang saling bersilangan membentuk seperti jaring. Garis-garis serabut tersebut membentuk Cleavage yang penting dalam proses pembedahan. Sayatan bedah yang memotong garis cleavage lebih sulit sembuh daripada yang paralel dengan garis ini.
Lapisan reticular sangat banyak mengandung pembuluh darah, syaraf, ujung-ujung syaraf bebas, sel-sel adiposa(lemak), kelenjar minyak dan akar rambut, reseptor untuk tekanan dalam. Bagian terbawah lapisan ini mengandung serabut otot polos (hususnya di genital dan putting susu) dan folikel rambut.
Hipodermis/Subkutan 
Lapisan hypodermis atau lapisan subkutan terdiri dari jaringan adipose, banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan syaraf juga terdapat gulungan kelenjar keringat dan dasar dari folikel rambut. Tidak seperti epidermis dan dermis, batas dermis dengan lapisan ini tidak jelas.
Pada bagian yang banyak bergerak jaringan hipodermis kurang, pada bagian yan melapisi otot atau tulang mengandung anyaman serabut yang kuat. Pada area tertentu yng berfungsi sebagai bantalan (payudara dan tumit) terdapat lapisan sel-sel lemak yang tipis. Distribusi lemak pada lapisan ini banyak berperan dalam pembentukan bentuk tubuh terutama pada wanita.
Selain kedua stratum di atas, dermis juga mengandung beberapa turunan epidermis, yaitu folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebacea.
a.       Rambut.
Merupakan struktur berkeratin panjang yang berasal dari invaginasi epitel epidermis, yaitu folikel rambut. Pada folikel ini terdapat pelebaran terminal yang berbentuk benjolan pada sebuah papilla dermis. Papila dermis tersebut mengandung kapiler dan ditutupi oleh sel-sel yang akan membentuk korteks rambut, kutikula rambut, dan sarung akar rambut.
b.       Kelenjar keringat.
Terdiri atas kelenjar keringat merokrin dan kelenjar keringat apokrin. Kelenjar keringat merokrin, berupa kelenjar tubular sipleks bergelung dengan saluran bermuara di permukaan kulit. Salurannya tidak bercabang dan memiliki diameter lebih kecil dari bagian sekresinya 0,4 mm. Terdapat dua macam sel mioepitel yang mengelilingi bagian sekresinya, yaitu sel gelap yang mengandung granula sekretoris dan sel terang yang tidak mengandung granula sekretoris. Sedangkan Kelenjar keringat apokrin, memiliki ukuran lebih besar (3-5 mm) dari kelenjar keringat merokrin. Kelenjar ini terbenam di bagian dermis dan hipodermis, dan duktusnya bermuara ke dalam folikel rambut. Terdapat di daerah ketiak dan anus.
c.        Kelenjar sebacea,
Merupakan kelenjar holokrin, terbenam di bagian dermis dengan jumlah bervariasi mulai dari seratus hingga sembilan ratus per centimeter persegi. Sekret dari kelenjar sebacea adalah sebum, yang tersusun atas campuran lipid meliputi trigliserida, lilin, squalene, dan kolesterol beserta esternya.
Fungsi dari kelenjar-kelenjar pada kulit
a.      kelenjar minyak
berfungsi untuk menghindarkan kulit dalam keadaan kering yang dpat menimbulkan keriput/ tanda-tanda penuaan yang datang lebih cepat.
b.       kelenjar keringat
berfungsi untuk mengatur kadar air/ sebagai alat ekskresi berupa keringat(mengandung garam dapur/garam).
Pada bagian bawah dermis, terdapat suatu jaringan ikat longgar yang disebut jaringan subkutan dan mengandung sel lemak yang bervariasi. Jaringan ini disebut juga fasia superficial atau panikulus adiposus. Jaringan ini mengandung jalinan yang kaya akan pembuluh darah dan pembuluh limfe. Arteri yang terdapat membentuk dua plexus, satu di antara stratum papilare dan retikulare, satu lagi di antara dermis dan jaringan subkutis. Cabang-cabang plexus tersebut mendarahi papila dermis. Sedangkan vena membentuk tiga plexus, dua berlokasi seperti arteri, satu lagi di pertengahan dermis. Adapun pembuluh limfe memiliki lokasi sama dengan pembuluh arteri.
Untuk mendukung fungsi kulit sebagai penerima stimulus, maka terdapat banyak ujung saraf, antara lain di epidermis, folikel rambut, kelenjar kutan, jaringan dermis dan subkutis, serta papila dermis. Ujung saraf ini tanggap terhadap stimulus seperti rabaan-tekanan, sensasi taktil, suhu tinggi/rendah, nyeri, gatal, dan sensasi lainnya. Ujung saraf ini meliputi ujung Ruffini, Vaterpacini, Meissner, dan Krause.
Selain itu turunan kulit yang lain adalah kuku. Kuku merupakan lempeng sel epitel berkeratin pada permukaan dorsal setiap falang distal. Lempeng kuku terletak pada stratum korneum, sedangkan dasar kuku terletak pada stratum basal dan spinosum.
Fungsi Kulit
Kulit memiliki banyak fungsi diantaranya adalah:
a.      Menutupi dan melindungi organ-organ dibawahnya.
b.      Melindungi tubuh dari masuknya mikroorganisme dan benda asing yang dapat membahayakan tubuh. Fungsi ini merupakan fungsi perlindungan pasif. Selain fungsi perlindungan pasif, lapisan dermis berperan dalam proses menyiapkan limfosit yang di produksi oleh sumsum tulang sebelum benar-benar dipakai untuk menyerang berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Peran kulit dalam hal ini merupakan peran aktif dalam perlindungan tubuh.
c.       Pengaturan suhu. Kulit, jaringan sub kutan dan lemak merupakan penyekatpanas dari tubuh. Lemak menyalurkan panas sepertiga kecepatan jaringan lain atau dalam kata lain lemak menghambat pengeluaran panas dari tubuh. . Kecepatan aliran darah ke kulit menyebabkan konduksi panas sangat efisien. Konduksi panas ke kulit diatur oleh sistem syaraf simpatis. Syaraf simpatis mengatur kecepatan lairan darah dengan menstimulasi vaso konstriksi dan vaso dilatasi.
d.      Ekskresi: Melalui perspirasi/berkeringat, membuang sejumah kecil urea.
e.       Sintesis: Konversi 7-dehydrocholesterol menjadi Vit D3(cholecalciferol) dengan bantuan sinar U.V. Kekurangan UV dan Vit D mengakibatkan absorpsi Ca dari intestinal ke darah menurun.
f.       Sensori persepsi: mengandung reseptor terhadap panas, dingin, nyeri, sentuhan /raba, tekanan. Juga mengandung ujung-ujung syaraf bebas yang berfungsi sebagai homeostatis. 


Daftar Pustaka.
Campbell, Neils A. 2004.  Biologi Edisi ke-Lima Jilid 3 terjemahan. Erlangga: Jakarta.
Sloane, Ethel. 1995. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Penerbit Buku kedokteran EGC: Jakarta

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :