SYAMSUL HUDA

THIS WEB IS JUST FOR FUN, NOT FOR REFERENCE

Deskripsi, Identifikasi, dan Identifikasi Tumbuhan yang Sudah / Belum Dikenal Ilmu Pengetahuan

diposting oleh syamsulhuda-fst09 pada 18 October 2011
di kuliah - 7 komentar

Deskripsi, Identifikasi, dan  

Identifikasi Tumbuhan yang Sudah /  Belum Dikenal Ilmu Pengetahuan 
 

Nurul Qomariyah Sayuti (080914005)
Syamsul Huda (080914006)
Uswatun Khasanah (080914008)
Moch. Saifudin (080914009)
Noorafebrianie (080914010)
Nur Fadilah (080914012)
 

 

 

Departemen Biologi

Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Airlangga

2011

  1. A.    DEKRIPSI

Deskripsi adalah suatu tulisan atau ucapan lisan yang menggambarkan sifat suatu benda atau organisme. Tujuan utama penyusunan deskripsi adalah untuk membantu pengenalan terhadap suatu sampel atau takson. Berdasarkan fungsinya inilah deskripsi dibagi menjadi dua, yaitu deskripsi analitik dan deskripsi diagnostik. Deskripsi analitik juga dapat disebut deskripsi umum dikarenakan deskripsi ini berisi semua sifat atau karakter alamiah dari suatu sampel atau takson. Fungsi deskripsi analitik adalah meenggambarkan dengan kata-kata serinci dan sejelas mungkin suatu organisme atau sampel yang kita maksudkan, atau yang sedang kita amati. Deskripsi diagnostik berisi karakter-karakter yang penting saja. Fungsi deskripsi diagnostik adalah menyampaikan tanda atau karakter taksonomi yang dimiliki suatu organisme atau suatu takson, karena itu dalam deskripsi ini hanya tercantum karakter taksonominya. Bila dalam deskripsi diagnostik jelas disebut nama jenis lain sebagai pembanding, maka deskripsinya disebut diagnostik diferensial. Fungsi deskripsi diagnostik diferensial adalah menunjukkan karakter pembeda dengan takson tertentu lainnya.

 

  1. B.    DETERMINASI

Melakukan determinasi tumbuhan berarti mengungkapkan atau menetapkan identitas atau jati diri suatu tumbuhan, yang dalam hal ini adalah menentukan namanya yang benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi. Mengingat kehidupan manusia itu untuk sebagian besar bergantung pada tumbuhan, tentulah sejak dahulu kala manusia telah melakukan pengenalan tumbuhan dan semakin banyak yang ia kenal semakin dirasakan pula perlunya untuk mengadakan penggolongan atau klasifikasinya. Oleh sebab itu masalah determinasi ini bukan suatu yang baru. Yang relatif baru adalah kesepakatan Internasional menuju keseragaman dalam pemberian nama, yang secara eksplisit kemudian disebut sebagai nama ilmiah. Untuk klasifikasinya pun diharapkan agar dapat disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu dengan menerapkan sistem filogenetik. Determinasi tumbuhan selalu didasarkan atas spesimen (bahan) yang riil, baik spesimen yang masih hidup maupun yang telah diawetkan, biasanya dengan cara dikeringkan atau dalam bejana yang berisi cairan pengawet, misalnya alkohol atau formalin. Jika mengadakan koleksi tumbuhan dan determinasi tumbuhan terdapat dua kemungkinan yang terjadi yaitu identikasi tumbuhan yang masih belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan dan determinasi yang sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, tetapi kolektor belum mengetahuinya.

  1. Determinasi tumbuhan yang belum diketahui oleh ilmu pengetahuan

Oleh pelaku determinasi spesimen yang belum dikenal itu melalui studi yang seksama kemudian dibuatkan deskripsinya di samping gambar-gambar terinci mengenai bagian-bagian tumbuhan yang memuat ciri-ciri diagnostiknya, yang atas dasar hasil studinya kemudian ditetapkan spesimen itu merupakan anggota populasi jenis apa, dan berturut-turut ke atas dimasukkan kategori yang mana (genus, famili, ordo, dan kelas serta divisinya). Penentuan nama jenis dan tingkat-tingkat takson ke atas berturut-turut tidak boleh menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti dimuat dalam KITT (Kode Internasional Tatanama Tumbuhan). Nama takson baru itu selanjutnya harus dipublikasikan melalui cara-cara yang diatur pula oleh KITT. Prosedur determinasi tumbuhan yang untuk pertama kali akan diperkenalkan oleh dan ke dunia ilmiah itu memerlukan bekal yang lazimnya hanya dimiliki oleh mereka yang berpendidikan ilmu hayat, khususnya taksonomi tumbuhan. Oleh karena itu pekerjaan determinasi yang pertama kali itu hanya dilakukan oleh ahli-ahli yang bekerja dalam lembaga penelitian taksonomi tumbuhan (herbarium), jarang sekali oleh pihak-pihak lain diluar mereka. Suatu hal yang perlu disadari ialah bahwa kegiatan ini berjalan terus. Setiap ekspedisi ke wilayah jauh, lebih-lebih yang belum dikenal atau bahkan yang telah dikenal pun, biasanya ada saja di antara spesimen-spesimen yang dikumpulkan itu yang ternyata merupakan anggota populasi yang tergolong dalam jenis yang belum pernah dikenal sebelumnya. Hal ini memang tak perlu mengherankan kita bila teori evolusi merupakan suatau konsep yang tak lagi diragukan kebenarannya karena selama evolusi masih berlangsung selama itu akan selalu dihasilkan jenis-jenis yang baru.

Tentang persyaratan pemberian nama ilmiah, publikasi, dan segala implikasinya di atur dalam KITT. Penentuan nama takson baru perlu memenuhi persyaratan antara lain :

  1. Nama dalam bahasa latin atau bahasa lain yang diperlakukan sebagai bahasa latin
  2. Nama dipublikasikan secara sah (legitimate)
  3. Berlaku (valid)
  4. Dipublikasikan secara efektif, yaitu disebarluaskan ke khalayak ramai, paling tidak kepada para ahli yang berkecimpung dalam bidang botani.
  5. Harus ditunjuk tipe tatanamanya (spesimen tipe).

Tipe tatanama adalah spesimen atau unsur lain yang dikaitkan secara abadi dengan nama takson yang bersangkutan.

Dalam mempublikasikan nama takson baru tersebut deskripsi atau paling tidak diagnosis dari takson baru itu harus dalam bahasa latin. Pada publikasi asli harus ditambahkan keterangan takson baru itu pada tingkat takson yang mana dan ditunjukkan dengan singkatan dalam bahasa latin setelah nama takson yang diusulkan, contohnya :

-                  Nov.spec. untuk suatu nama spesies baru

-                  Nov.gen. untuk suatu nama genus baru

-                  Nov.var. untuk suatu nama varietas baru

-                  Nov.form untuk suatu nama form baru

 

  1. Determinasi tumbuhan yang sudah diketahui oleh ilmu pengetahuan

Determinasi tumbuhan yang sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan yaitu determinasi tumbuhan yang mana kita belum mengetahui untuk taksonomi tumbuhan tersebut, akan tetapi sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan. Untuk mengatasi hal tersebut tersedia beberapa cara, antara lain :

a. Menanyakan identitas tumbuhan yang tidak kita kenal kepada seorang yang kita anggap ahli dan kita perkirakan mampu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan kita.

b. Mencocokkan dengan spesimen herbarium yang telah dideterminasi. Yaitu dengan cara mengirimkan spesimen tumbuhan ke herbarium atau lembaga-lembaga penelitian biologi yang tenar untuk dideterminasikan. Herbarium adalah spesimen yang digunakan untuk studi taksonomi, berupa tumbuhan segar yang masih hidup, akan tapi biasanya berupa bahan tumbuhan yang telah dimatikan atau diawetkan dengan metode tertentu. Cara ini merupakan cara yang umum terjadi di seluruh dunia. Selain itu cara ini juga kerap digunakan antar ilmuwan untuk memperoleh kepastian mengenai identitas tumbuhan, pengecekan silang atau konfirmasi.

Koleksi spesimen herbarium biasanya disimpan pada suatu tempat yang diberi perlakuan khusus pula yang dikenal dengan laboratorium herbarium. Para ahli-ahli botani menyimpan koleksi herbarium mereka pada pusat-pusat herbarium di masing-masing Negara. Di Indonesia pusat herbarium terbesar terdapat di Herbarium Bogoriense Bidang Botani, Puslit Biologi-LIPI berada di wilayah Cibinong Jawa Barat. Laboratorium ini menyimpan lebih dari 2 juta koleksi herbarium yang berasal dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia dan dari berbagai Negara di dunia.

Spesimen yang tersimpan di gedung ini ada diantaranya sudah berumur ratusan tahun, terbukti pada label tempel tertulis tahun pembuatan 1823 yang berarti spesimen tersebut dibuat tahun 1923 dan dilengkapi pula dengan lokasi pengambilan spesimen. Lokasi tempat pengambilan spesimen tersebut kemungkinan sekarang telah beralih fungsi menjadi fungsi lain seperti perkebunan, pemukiman, perkantoran atau bentuk lain.

Herbarium ada 2 macam, yaitu:

1. Herbarium basah

Yang dimaksud dengan herbarium basah adalah spesimen tumbuhan yang telah diawetkan dan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat dengan komposisi yang berbeda. Disamping itu dapat pula ditempatkan zat-zat lain untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya bertujuan untuk sejauh mungkin dapat mempertahankan warna asli bahan tumbuhan yang akan diawetkan. Adapun bahan pengawet yang biasa digunakan adalah formalin.

2. Herbarium kering

Yaitu herbarium yang cara pengawetannya dengan cara dikeringkan. Sebagian besar spesimen herbarium yang disimpan sebagai awetan dalam herbarium-herbarium di dunia ini diproses melalui pengeringan. Pengeringan biasanya dilakukan dengan sinar matahari, kecuali bila ada pertimbangan-pertimbangan lain, misalnya keadaan cuaca. Pada musim penghujan, pengeringan tidak dapat berlangsung cepat sehingga bahan yang dikeringkan kadang-kadang terganggu oleh jamur.

c. Mencocokkan candra dan gambar-gambar yang ada dalam buku flora atau monografi. Buku flora adalah suatu bentuk karya taksonomi tumbuhan yang memuat jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan dalam suatu wilayah tertentu.  Contohnya adalah bunga bangkai (Raflesia arnoldi) yang persebarannya hanya di pulau Sumatra dan Kalimantan serta pulau-pulau kecil di sekitarnya (Nias, Enggano, Bangka, Belitung, Kep. Riau, Natuna, Batam, Buton dll). Sedangkan monografi adalah suatu bentuk karya taksonomi tumbuhan yang memuat jenis-jenis tumbuhan yang tergolong dalam kategori tertentu, baik yang terbatas pada suatu wilayah tertentu maupun yang terdapat di seluruh dunia. Misalnya adalah mengelompokkan tumbuhan berdasarkan persebarannya (tropis, subtropis, gurun, dan lain sebagainya). Pelaku determinasi dengan cara ini harus pula menguasai peristilahan yang lazim digunakan dalam mencandra tumbuhan. Selain itu, kadang diperlukan juga peralatan tertentu seperti perangkat alat pengurai (dissecting kit), kaca pembesar, bahkan mikroskop.

d. Menggunakan lembar identifikasi jenis (spesies identification sheet), yaitu sebuah gambar suatu jenis tumbuhan yang disertai nama dan klasifikasi jenis yang bersangkutan. Disamping itu, gambar juga dilengkapi dengan candra serta keterangan-keterangan lain menambah lengkapnya informasi mengenai jenis tumbuhan tadi. Dengan tersedianya lembar-lembar identifikasi jenis, yang merupakan flora bergambar untuk suatu lingkungan tertentu, mereka dimungkinkan untuk mengadakan inventarisasi jenis-jenis gulma yang ada dalam wilayah kerjanya. Dengan demikian dapat diperoleh informasi yang dapat menunjang kepentingan-kepentingan lain, seperti dalam menetapkan metode pengendalian gulma di perkebunan yang bersangkutan.

e. Menggunakan kunci determinasi. Untuk mengdeterminasi makhluk hidup yang baru saja dikenal, kita memerlukan karakter pembanding, berupa gambar  maupun spesimen seperti awetan tumbuhan, yang sudah diketahui namanya yang disusun dalam kunci determinasi. Kunci determinasi disebut juga kunci identifikasi yaitu serentetan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus ditemukan pada spesimen yang akan dideterminasi. Tetapi karena di dunia ini tidak ada dua benda yang identik atau persis sama, maka istilah determinasi (Inggris to determine = menentukan, memastikan) dianggap lebih tepat dari pada istilah identifikasi. Bila semua pertanyaan berturut-turut dalam kunci determinasi itu ditemukan jawabannya, maka tumbuhan yang akan dideterminasikan sama dengan salah satu yang telah dibuat kuncinya dan nama serta tempatnya dalam sistem klasifikasi akan diketahui setelah semua pertanyaan dalam kunci dapat dijawab.

Penggunaan kunci determinasi merupakan cara yang paling sering digunakan untuk mengdeterminasi tumbuhan terutama jika kita tidak memiliki spesimen acuan. Kunci determinasi merupakan daya penganalisis yang berisi ciri-ciri khas takson tumbuhan yang dicakupnya. Ciri-ciri tadi disusun sedemikian rupa sehingga selangkah demi selangkah pemakai kunci dipaksa memilih satu diantara dua atau beberapa sifat yang bertentangan, dan begitu seterusnya sehingga akhirnya diperoleh suatu jawaban  berupa identifikasi tumbuhan yang diinginkan. Pendeterminasian dengan bantuan kunci harus dilakukan secara bertahap, sebab setiap kunci determinasi itu mempunyai batas kemampuan sendiri-sendiri. Ada kunci yang hanya sampai bangsa saja, sampai suku, sampai marga, atau sampai jenis dan seterusnya. Penggunaan kunci determinasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Namun, sebenarnya Lammarck (1778) juga pernah menggunakan kunci modern untuk determinasi. Salah satu kunci determinasi ada yang disusun dengan menggunakan ciri-ciri taksonomi yang saling berlawanan. 

Tiap langkah dalam kunci tersebut terdiri atas dua alternatif (dua ciri yang saling berlawanan) sehingga disebut kunci dikotomis. Pada dasarnya kunci determinasi terdiri atas :

  • Sederet bait atau kuplet

Dalam suatu kunci, sepasang pertanyaan yang saling bertentangan dinamakan kuplet (couplet), sedangkan masing-masing pertanyan dinamakan bait (lead).

  • Setiap bait terdiri atas (atau ada kalanya beberapa) baris yang disebut penuntun dan berisi ciri-ciri yang bertentangan satu sama lain.

Artinya, apabila suatu makhluk hidup memiliki ciri-ciri yang satu, berarti ciri yang lain pasti gugur. Untuk memudahkan pemakaiannya dan pengacuan maka setiap bait diberi nomor sedangkan penuntunnya ditandai dengan huruf. Seperti telah disinggung di atas pemakai kunci determinasi harus mengikuti bait-bait secara bertahap sesuai dengan yang ditentukan oleh penuntun. Tapi dengan mempertentangkan ciri-ciri yang tercantum dalam penuntun-penuntun secukupnya akhirnya hanya akan tinggal satu kemungkinan dan kita akan dituntun langsung pada nama takson tumbuhan yang dicari.

Kunci determinasi dibedakan menjadi dua macam berdasarkan cara penempatan bait-baitnya yaitu kunci determinasi bertakik dan kunci paralel.

  1. Kunci Determinasi Bertakik (Idented Key)

Pada kunci determinasi bertakik penuntun-penuntun yang sebait ditakikkan pada tempat tertentu dari pinggir (menjarak pada jarak tertentu dari pinggir), tapi letaknya berjauhan. Di antara kedua penuntun itu ditempatkan bait-bait takson tumbuhan, dengan ditakikkan lebih ke tengah lagi dari pada takik awal atau pinggir yang memenuhi ciri penuntun pertama dari baik penuntun pertama maupun penuntun yang dipisahkan berjauhan. Dengan demikian maka unsur-unsur takson yang mempunyai ciri yang sama jadi bersatu sehingga bisa terlihat sekaligus. Kunci bertakik ini efisien untuk bahan yang sedikit, tetapi apabila bahan (takson) yang digunakan sangat banyak dapat dibayangakan bahwa terlalu banyak memakan tempat, oleh karena itu ada alternatif kunci lain, yaitu kunci paralel.

Contoh kunci bertakik :

1a. Buah kurung, bunga tidak bertaji.

2a. Tidak ada petala.

3a. Sepala biasanya 4, tidak berdaun pembalut...................Clematis

3b. Sepala biasanya 5, ada daun pembalut.........................Anemone

2b.Petala ada.........................................................................Ranunculus

1b. Buah bumbung, bunga bertaji.

4a. Bunga aktinomorf, taji 5...................................................Aquilegia

4b. Bunga zigomorf, taji 1...................................................Delphinium

 

  1. Kunci Paralel (Bracketed Key)

Berbeda dengan kunci bertakik, penuntun-penuntun kunci paralel yang sebait ditempatkan secara berurutan dan semua baitnya disusun seperti gurindam atau sajak. Pada akhir setiap penuntun diberikan nomor bait yang harus diikuti dan demikian seterusnya sehingga akhirnya diperoleh nama takson tumbuhan yang dicari. Kunci paralel lebih menghemat tempat dibandingkan dengan kunci bertakik. Kunci ini lebih efisien untuk bahan takson yang banyak, sehingga banyak digunakan dalam buku-buku yang berjudul Flora. Buku Flora of Java yang ditulis oleh Backer dan Backuizen van den Brink semuanya ditulis dalam bentuk kunci paralel. Kerugiannya adalah kita tidak dapat melihat langsung sifat-sifat takson dalam satu deretan seperti pada kunci bertakik.

Contoh kunci paralel :

1a. Buah kurung, bunga tidak bertaji............................................................2

b. Buah bumbung, bunga bertaji.................................................................4

2a. Tidak ada petala......................................................................................3

b. Petala ada...............................................................................Ranunculus

3a. Sepala biasanya 4, tidak berdaun pembalut................................Clematis

b. Sepala biasanya 5, ada daun pembalut......................................Anemone

4a. Bunga aktinomorf, taji 5............................................................Aquilegia

b. Bunga zugomorf, taji 1...........................................................Delphinum

 

Cara menggunakan kunci determinasi antara lain sebagai berikut:

1. Bacalah dengan teliti kunci determinasi mulai dari permulaan, yaitu nomor 1a. 

2. Cocokkan ciri-ciri tersebut pada kunci determinasi dengan ciri yang terdapat pada tumbuhan yang diamati. 

3. Jika ciri-ciri pada kunci tidak sesuai dengan ciri tumbuhan yang diamati, harus beralih pada pernyataan yang ada di bawahnya dengan nomor yang sesuai. Misalnya, pernyataan 1a tidak sesuai, beralihlah ke pernyataan 1b.

4. Jika ciri-ciri yang terdapat pada kunci determinasi sesuai dengan ciri yang dimiliki tumbuhan yang diamati, catatlah nomornya. Lanjutkan pembacaan kunci pada nomor yang sesuai dengan nomor yang tertulis di belakang setiap pernyataan pada kunci.

5. Jika salah satu pernyataan ada yang cocok atau sesuai dengan tumbuhan yang diamati, alternatif lainnya akan gugur. Sebagai contoh, kunci determinasi memuat pilihan: a. tumbuhan berupa herba, atau b. tumbuhan berkayu. Jika yang dipilih adalah 1a (tumbuhan berupa herba), pilihan 1b gugur.

6. Apabila kedua pilihannya mugkin, coba ikuti keduanya. Bila tidak cocok dengan semua kunci dan semua pilihan layaknya tidak kena, mungkin terjadi kesalahan, ulangi ke belakang.

 

7. Begitu seterusnya hingga diperoleh nama famili, ordo, kelas, dan divisio atau filum dari tumbuhan yang diamati. Pada umumnya, buku penuntun determinasi makhluk hidup dilengkapi dengan kunci determinasi dan hanya berlaku setempat (lokal).

 

Beberapa syarat kunci determinasi yang baik menurut Vogel (1989) antara lain:

1. Ciri yang dimasukkan mudah diobservasi, karakter internal dimasukkan bila sangat penting.

2. Menggunakan karakter positif dan mencakup seluruh variasi dalam grupnya.
Contoh : leaves opposites dan leaves either in whorls, bukan leaves opposites dan leaves not opposites

3. Deskripsi karakter dengan istilah umum yang dimengerti orang

4. Menggunakan kalimat sesingkat mungkin, hindari deskripsi dalam kunci

5. Mencantumkan nomor kuplet

6. Mulai dari ciri umum ke khusus, bawah ke atas

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

De Vogel. 1987. Manual of Herbarium Taxonomy; Theory and practice. Enesco : Jakarta.

Hutapea JR. 1993. Plant Resources of Shout East Asia (Medical and Poisoner Plant I). Prosea : Bogor.

Jones, S. B and A. E Luchsinger. 1987.  Plant Systematics. Biological Sciences series. McGraw-Hill Book Company Second Edition : New York.491 pp

Mound L. 2006. Thysanoptera Slide Mounting Methods.Taxonomy Workshop 1 (Thrips). AADCP PS: Strengthening ASEAN Plant Health Capacity Project Kuala Lumpur-Malaysia.

Pudjoarianto, Agus. Taksonomi Tumbuhan II. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.

Suryo,dkk. 1958. Determinasi Tumbuhan. Jogjakarta: Laboraturium Taksonomi Tumbuhan

Tjitrosoepomo, Gembong. 1993. Taksonomi Tumbuhan Spermathopyhta. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Taksonomi Umum. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.

7 Komentar

1. WcfMXIDLHwhCmwt

pada : 27 November 2011

"I didn't know where to find this info then kbaoom it was here."


2. bangbDGcQZJlfrIsX

pada : 15 June 2012

"That hits the tgraet perfectly. Thanks!"


3. kwDqMeTheTZi

pada : 31 August 2012

"katie / I'm back on and I was going thru blog withdrawal! I coldun't get on for days! Thank you so much for watching her,you were a brave woman. WE APPRECIATE IT MORE than you know! We love the pictures of the girls and Addy did such a great job playing big sister for the night! We are very lucky to have people like you living next to us!"


4. JesQCcVMPotutIdAVzo

pada : 31 August 2012

"Hey there,I DO know someone who loves eniatg moonsnails. She lives way up in Jefferson County so maybe that explains it, just kidding, but I'll search her out and find out why and how. who knows it may be the next big thing .!?Neighbor Nance"


5. zgloLHaAIvhCbyKIKLM

pada : 31 August 2012

"It should be ssretsed that the ethics policy is framed in terms of appearance as well as fact. Citizens (and council members, and staff) can and should comment freely and often on the ethical appearance of matters that come before them, whether or not those matters constitute an ethics violation. The general idea behind the policy is to stay entirely out of gray areas;' factual violations are much less common when staff and council know that even appearances may be questioned in a friendly way.When it may be expected that a reasonable citizen will perceive something as questionable, it doesn't matter why that citizen may think so, the employee or council are still bound to avoid that appearance."


6. ZNSXnLPSCSifYom

pada : 31 August 2012

"Violet, those are some fantastic ideas! I hope you don't mind if I steal them! The tewety bird project would've been so much fun!Hear Mum Roar s last post .."


7. ExXzWBYMp

pada : 31 August 2012

"Now this is an interesting pojcert to start my niece on when she gets old enough to know the difference between smarties and inedibles, thanks for the idea as she has to stay indoors most of the time"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :