SYAMSUL HUDA

THIS WEB IS JUST FOR FUN, NOT FOR REFERENCE

Identifikasi tumbuhan yang sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan

diposting oleh syamsulhuda-fst09 pada 08 October 2011
di umum - 4 komentar

Identifikasi tumbuhan yang sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan

Identifikasi tumbuhan yang sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan yaitu identifikasi tumbuhan yang mana kita belum mengetahui untuk taksonomi tumbuhan tersebut, akan tetapi sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan. Untuk mengatasi hal tersebut tersedia beberapa cara, antara lain :

a. Menanyakan identitas tumbuhan yang tidak kita kenal kepada seorang yang kita anggap ahli dan kita perkirakan mampu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan kita.

b. Mencocokkan dengan specimen herbarium yang telah diidentifikasi. Yaitu dengan cara mengirimkan specimen tumbuhan ke herbarium atau lembaga-lembaga penelitian biologi yang tenar untuk diidentifikasikan. Herbarium adalah spesimen yang digunakan untuk studi taksonomi, berupa tumbuhan segar yang masih hidup, akan tapi biasanya berupa bahan tumbuhan yang telah dimatikan atau diawetkan dengan metode tertentu. Cara ini merupakan cara yang umum terjadi di seluruh dunia. Selain itu cara ini juga kerap digunakan antar ilmuwan untuk memperoleh kepastian mengenai identitas tumbuhan, pengecekan silang atau konfirmasi.

Koleksi specimen herbarium biasanya disimpan pada suatu tempat yang diberi perlakuan khusus pula yang dikenal dengan laboratorium herbarium. Para ahli-ahli botani menyimpan koleksi herbarium mereka pada pusat-pusat herbarium di masing-masing Negara. Di Indonesia pusat herbarium terbesar terdapat di Herbarium Bogoriense Bidang Botani, Puslit Biologi-LIPI berada di wilayah Cibinong Jawa Barat. Laboratorium ini menyimpan lebih dari 2 juta koleksi herbarium yang berasal dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia dan dari berbagai Negara di dunia.

Spesimen yang tersimpan di gedung ini ada diantaranya sudah berumur ratusan tahun, terbukti pada label tempel tertulis tahun pembuatan 1823 yang berarti specimen tersebut diabuat tahun 1923 dan dilengkapi pula dengan lokasi pengambilan spesimen. Lokasi tempat pengambilan spesimen tersebut kemungkinan sekarang telah beralih fungsi menjadi fungsi lain seperti perkebunan, pemukiman, perkantoran atau bentuk lain.

 

Herbarium ada 2 macam, yaitu:

1. Herbarium basah.

Yang dimaksud dengan herbarium basah adalah spesimen tumbuhan yang telah diawetkan dan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat dengan komposisi yang berbeda. Disamping itu dapat pula ditempatkan zat-zat lain untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya bertujuan untuk sejauh mungkin dapat mempertahankan warna asli bahan tumbuhan yang akan diawetkan. Adapun bahan pengawet yang biasa digunakan adalah formalin.

2. Herbarium kering.

Yaitu herbarium yang cara pengawetannya dengan cara dikeringkan. Sebagian besar specimen herbarium yang disimpan sebagai awetan dalam herbarium-herbarium di dunia ini diproses melalui pengeringan. Pengeringan biasanya dilakukan dengan sinar matahari, kecuali bila ada pertimbangan-pertimbangan lain, misalnya keadaan cuaca. Pada musim penghujan, pengeringan tidak dapat berlangsung cepat sehingga bahan yang dikeringkan kadang-kadang terganggu oleh jamur.

 

c. Mencocokkan candra dan gambar-gambar yang ada dalam buku flora atau monografi. Buku flora adalah suatu bentuk karya taksonomi tumbuhan yang memuat jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan dalam suatu wilayah tertentu..  Contohnya adalah Bunga Bangkai (Raflesia Arnoldi) yang persebarannya hanya di pulau Sumatra dan Kalimantan serta pulau-pulau kecil di sekitarnya (Nias, Enggano, Bangka, Belitung, Kep. Riau, Natuna, Batam, Buton dll).

Sedangkan Monografi adalah suatu bentuk karya taksonomi tumbuhan yang memuat jenis-jenis tumbuhan yang tergolong dalam kategori tertentu, baik yang terbatas pada suatu wilayah tertentu maupun yang terdapat di seluruh dunia. Misalnya adalah mengelompokkan tumbuhan berdasarkan persebarannya (tropis, subtropis, gurun, dan lain sebagainya). Pelaku identifikasi dengan cara ini harus pula menguasai peristilahan yang lazim digunakan dalam mencandra tumbuhan. Selain itu, kadang diperlukan juga peralatan tertentu seperti perangkat alat pengurai (dissecting kit), kaca pembesar, bahkan mikroskop.

 

d. Menggunakan lembar identifikasi jenis (spesies identification sheet), yaitu sebuah gambar suatu jenis tumbuhan yang disertai nama dan klasifikasi jenis yang bersangkutan. Disamping itu, gambar juga dilengkapi dengan candra serta keterangan-keterangan lain menambah lengkapnya informasi mengenai jenis tumbuhan tadi. Dengan tersedianya lembar-lembar identifikasi jenis, yang merupakan flora bergambar untuk suatu lingkungan tertentu, mereka dimungkinkan untuk mengadakan inventarisasi jenis-jenis gulma gulma yang ada dalam wilayah kerjanya. Dengan demikian dapat diperoleh informasi yang dapat menunjang kepentingan-kepentingan lain, seperti dalam menetapkan metode pengendalian gulma di perkebunan yang bersangkutan.

 

e. Menggunakan kunci identifikasi. Untuk mengidentifikasi makhluk hidup yang baru saja dikenal, kita memerlukan karakter pembanding berupa gambar  maupun spesimen (awetan hewan dan tumbuhan), hewan atau tumbuhan yang sudah diketahui namanya yang disusun dalam kunci identifikasi. Kunci identifikasi disebut juga kunci determinasi yaitu serentetan pertanyaan-pertanyaan yang jawabanya harus ditemukan pada specimen yang akan diidentifikasi. Bila semua pertanyaan berturut-turut dalam kunci identifikasi itu ditemukan jawabanya, maka tumbuhan yang akan diidentifikasikan sama dengan salah satu yang telah dibuat kuncinya, dan nama serta tempatnya dalam system klasifikasi akan diketahui setelah semua pertanyaan dalam kunci dapat dijawab.

Penggunaan kunci identifikasi merupakan cara yang paling sering digunakan untuk mengidentifikasi tumbuhan maupun hewan, terutama jika kita tidak memiliki spesimen asuan. Penggunaan kunci determinasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Namun, sebenarnya Lammarck (1778) juga pernah menggunakan kunci modern untuk identifikasi. Salah satu kunci identifikasi ada yang disusun dengan menggunakan ciri-ciri taksonomi yang saling berlawanan. 

Tiap langkah dalam kunci tersebut terdiri atas dua alternatif (dua ciri yang saling berlawanan) sehingga disebut kunci dikotomis. Cara menggunakan kunci determinasi antara lain sebagai berikut:

 

1. Bacalah dengan teliti kunci determinasi mulai dari permulaan, yaitu nomor 1a. 

2. Cocokkan ciri-ciri tersebut pada kunci determinasi dengan ciri yang terdapat pada makhluk hidup yang diamati. 

3. Jika ciri-ciri pada kunci tidak sesuai dengan ciri makhluk hidup yang diamati, harus beralih pada pernyataan yang ada di bawahnya dengan nomor yang sesuai. Misalnya, pernyataan 1a tidak sesuai, beralihlah ke pernyataan 1b.

4. Jika ciri-ciri yang terdapat pada kunci determinasi sesuai dengan ciri yang dimiliki organisme yang diamati, catatlah nomornya. Lanjutkan pembacaan kunci pada nomor yang sesuai dengan nomor yang tertulis di belakang setiap pernyataan pada kunci.

5. Jika salah satu pernyataan ada yang cocok atau sesuai dengan makhluk hidup yang diamati, alternatif lainnya akan gugur. Sebagai contoh, kunci determinasi memuat pilihan: a. tumbuhan berupa herba, atau b. tumbuhan berkayu. Jika yang dipilih adalah 1a (tumbuhan berupa herba), pilihan 1b gugur.

6. Begitu seterusnya hingga diperoleh nama famili, ordo, kelas, dan divisio atau filum dari makhluk hidup yang diamati. Pada umumnya, buku penuntun identifikasi makhluk hidup dilengkapi dengan kunci determinasi dan hanya berlaku setempat (lokal).

4 Komentar

1. MmzwRjcsba

pada : 27 November 2011

"At last! Someone who understands! Thanks for pstoing!"


2. david Nicolas M

pada : 17 October 2012

"keren tp kurang lengkap"


3. siti hanifa

pada : 18 January 2013

"trmksh infox smog brmanfaat bg ssw yg memulai identifikasi dbangka"


4. siti hanifa

pada : 18 January 2013

"trmksh infox smog brmanfaat bg ssw yg memulai identifikasi dbangka"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :