SYAMSUL HUDA

THIS WEB IS JUST FOR FUN, NOT FOR REFERENCE

pesantren mencetak generasi mandiri

diposting oleh syamsulhuda-fst09 pada 17 August 2011
di moslem - 0 komentar

Sebelumnya marilah kita mengetahui apakah yang di maksud dengan mandiri itu? Makna Kemandirian Secara umum kemandirian berasal dari kata “mandiri” yang mendapat tambahan ke-an, yang berarti “ diperintah oleh diri sendiri”. Ia merupakan kebalikan dari tergantung kepada pihak lain, yang berarti diperintah orang lain. Jadi ia berdiri sendiri.  
Dapat disimpulkan bahwa hakikat kemandirian adalah kemampuan seseorang membuat keputusan bagi dirinya sendiri. Walau begitu kemandirian tidak sama dengan kebebasan mutlak, kemandirian tersebut memperhitungkan semua faktor yang relevan dalam menentukan arah tindakan yang terbaik bagi semua yang berkepentingan.
Hadari Nawawi menyebut beberapa ciri kemandirian,  yakni:
1.      Mengetahui secara tepat cita-cita yang hendak dicapai.
2.      Percaya diri dan dapat dipercaya serta percaya pada orang lain.
3.      Mengetahui bahwa sukses adalah kesempatan bukan hadiah
4.       Membekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang berguna
5.       Mensyukuri nikmat Allah
Adapun Chabib Thoha menambahkan kriteria lain dalam kemandirian , yakni:
1.      Mampu berfikir secara kritis, kreatif dan inovatif.
2.      Tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain
3.      Tidak lari atau menghindari masalah
4.      Memecahkan masalah dengan berpikir yang mendalam
5.      Tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda dengan orang lain
6.      Bekerja dengan penuh ketekunan dan kemandirian
7.      Bertanggungjawab atas tindakannya sendiri.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian, faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dalam berhubungan dengan mental dan kejiwaan seseorang. Yang sangat menentukan dari faktor ini adalah kekuatan iman dan ketaqwaan kepada Alloh swt. Faktor luar yang mempengaruhi kemandirian adalah; lingkungan sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain.Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang telah tumbuh dan berkembang sejak masa penyiaran agama Islam.
Pesantren dan Kemandirian
Potret kehidupan Di pondok pesantren adalah santri di ajarkan kebiasaan bagaimana hidup tanpa menggantungkan orang tua saja, oleh karena itulah mau atau tidak, maka para santri tersebut haruslah bisa terbiasa  merawat ataupun berusaha untuk mencukupi kebutuhannya. 
Mengingat pendirian dan pengelolaan pendidikan pesantren dilakukan secara mandiri dan penuh keikhlasan para ulama dan masyarakat pendukungnya, maka di kalangan santripun tumbuh pula jiwa kemandirian, keikhlasan dan kesederhanaan. Gambaran tersebut tercermin pada kemandirian para santri mula-mula ditumbuhkan melalui bimbingan dalam mengurus sendiri kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mencuci, membersihkan kamar tidur, dan sebagainya. Semakin dewasa santri di serahi tanggungjawab mengurus satu bagian kegiatan pesantren. Kemudian setelah menjadi santri senior , diberi tanggungjawab memimpin adik-adiknya, atau diserahi tugas mengembangkan program-program pesantren, seperti mengurus majlis ta’lim, koperasi pesantren, kegiatan pramuka santri, program agribisnis, dan sebagainya.
Pada umumnya Pondok Pesantren didirikan oleh para Ulama secara mandiri, sebagai tanggung jawab ketaatan terhadap Allah SWT untuk mengajarkan, mengamalkan dan mendakhwahkan ajaran-ajaran agamanya. Karena pesantren didirikan oleh para ulama atau tokoh agama dengan visinya masing-masing, maka kurikulumnyapun sangat beragam.
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pondok pesantren juga terus berbenah diri dan meningkatkan kualitas pendidikannya, baik dalam materi/kurikulumnya, maupun metode pembelajarannya. Pendidikan pesantren sudah semakin disempurnakan dengan pendidikan formal, seperti madrasah dan bahkan juga sekolah umum. Lebih dari itu, tidak sedikit pesantren membuka jenjang pendidikan tinggi, baik pendidikan tinggi agama maupun pendidikan tinggi umum. Tetapi banyak kesamaan fungsi pendidikan pesantren, yaitu pesantren sebagai pusat pendidikan dan pendalaman ilmu-ilmu pengetahuan Islam (tafaqquh fiddin) dan pusat dakhwah Islam. Namun ada hal yang cukup menarik dari pendidikan pesantren, bahwa para kyai dalam mengembangkan lembaga pendidikan, ternyata tidak pernah menghilangkan bentuk aslinya, yakni model pesantren. Sekalipun kyai telah membuka sekolah formal, seperti madrasah, sekolah umum dan bahkan perguruan tinggi umum, misalnya dengan membuka fakultas ekonomi, psikologi, teknik dan lain-lain, system pesantrennya masih dipelihara. Tidak pernah ditemukan, fenomena kyai mengubah pesantrennya menjadi madrasah atau sekolah umum. Madrasah dan atau sekolah umum didirikan di pesantren, dimaksudkan untuk menyempurnakan lembaga pendidikan yang telah ada sebelumnya. Para kyai dalam mengembangkan lembaga pendidikan, bukan mengubah dan apalagi mengganti, melainkan menyempurnakan. Sistem pesantren disempurnakan dengan sekolah umum.
Proses belajar mengajar dalam lembaga pendidikan Islam ini memiliki tujuan tidak hanya memberikan bekal pengetahuan dan pengamalan tentang ritual peribadatan, tetapi termasuk membetuk kesalehan perilaku indvidu warganya (santri dan jama'ah) untuk dapat berhubungan antar sesama manusia dan makhluk lain. Sehingga diharapkan kelak ia menjadi pribadi yang memiliki kesalehan individual maupun kesalehan sosial.
Diakui bahwa pendidikan pesantren telah banyak berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pondok Pesantren telah banyak melahirkan tokoh ulama, tokoh pejuang bangsa , dan tokoh masyarakat. Hingga kini, pondok pesantren tetap exsis dan semakin berkembang serta tetap konsisten melaksanakan fungsinya, mendidik, membimbing para santri, menyiapkan mereka untuk jadi ulama, muballigh, ustadz dan guru agama yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Hanya saja pada kenyataannya, kondisi pesantren sangat tergantung pada kekuatan financial kyai yang bersangkutan. Jika kebetulan kyai memiliki sumber-sumber ekonomi yang cukup, maka lembaga pendidikannya tampak maju dan modern. Tetapi begitu pula sebaliknya sebaliknya, terdapat banyak pesantren yang berjalan seadanya, karena keterbatasan dana.
sesungguhnya Kyai memiliki wawasan pendidikan, yang kadang jauh lebih sempurna, bilamana dibandingkan dengan konsep-konsep yang dikembangkan di sekolah umum dan bahkan oleh perguruan tinggi sekalipun. Tanpa secara formal Kyai mempelajarai ilmu psikologi, sosiologi, antropologi pendidikan dan lain-lain, tampak dalam tataran kehidupan sehari-hari mereka memahami ilmu itu. Setidaknya para Kyai memiliki wawasan tentang disiplin ilmu social itu. Atas dasar wawasan itu, pesantren yang dikelola oleh Kyai tidak pernah mengedepankan aspek formalitas pendidikan.
Jika membandingkan pesantren dengan sekolah umum pada saat sekarang ini, maka, lembaga pendidikan yang dikelola para kyai ini justru memiliki berbagai kelebihan yang justru terkait dengan esensi pendidikan itu sendiri. Kelebihan pendidikan pesantren, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. (1) Pesantren memiliki kemandirian dan otonomi secara penuh, (2) Memiliki semangat juang dan berkorban yang tinggi dari semua yang terlibat di dalamnya. Komersialisasi pendidikan yang berujung terjadi runtuhnya nilai-nilai pendidikan tidak terjadi di lingkungan pesantren. Pesantren dibangun dan dikelola atas dasar keikhlasan dan diniatkan sebagai ibadah, (3) Pendidikan pesantren dijalankan secara lebih komprehensif atau utuh, meliputi pendidikan akhlak, spiritual, ilmu pengetahuan, dan juga ketrampilan; (4) Pendidikan di pesantren dijalankan tidak saja sebatas mentrasfer ilmu pengetahuan, apalagi hanya sebatas informasi, lebih dari itu adalah menstranfer kepribadian. Para Kyai secara langsung memberikan tauladan dan juga membiasakan hal-hal yang baik, sehingga ditiru oleh para santrinya; (5) Pendidikan pesantren tidak mengejar simbul-simbul, seperti sertifikat atau ijazah, melainkan untuk membangun watak atau akhlak yang mulia, (6) dan lain-lain.
Atas dasar kelebihan pendidikan pesantren seperti itu, semestinya pemerintah segera memberikan apresiasi yang cukup. Perhatian pada pesantren tidak hanya pada momen tertentu, semisal tatkala menghadapi pemilu, tetapi juga setiap saat pesantren membutuhkannya. Kyai sesungguhnya tidak berharap banyak bantuan dari manapun, karena bagi Kyai, menyelenggarakan pendidikan dipandang sebagai ibadah, dalam rangka memenuhi tuntutan agamanya. Sekalipun tidak disiapkan dana oleh pemerintah, Kyai tetap menyelenggarakan pendidikan dengan penuh kesabaran, ikhlas, amanah, dan istiqomah. Hal penting yang diharapkan oleh sementara pesantren, adalah pengakuan dan tidak dipertsulit tatkala mau mengembangkan diri. Pesantren ingin mempertahankan kemandiriannya dan tidak berharap bantuan dan balasan dari siapapun, kecuali hanya ingin mendapatkan ridho dari Allah swt. Wallahu a‘lam.

Angkat kata dari:

Pendidikan Kemandirian di Pesantren.Posted by: akangthea on: 17 Juli 2010. In: MIN Cibeureum

KEMANDIRIAN PONDOK PESANTREN DAN TANTANGANNYA DI MASA DEPAN,uin maliki malang.

Menegaskan Kembali Kemandirian Pesantren, Oleh : Ali Muhdi Amnur

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :